PLUVIOPHILE
Welcome to Selma's blog.

Indonesian.

100% hooman.


- Selma Garuda.


# Aku Pulang!
July 02, 2017 / permalink



6 January 2009.

Tatapannya semakin redup. Ia .. tidak pernah takut untuk kembali.
  
   Suara tangis itu kian lama kian menggelegar. Mengusik tidur siangku yang kini sudah terjaga. Kupandangi seluruh orang dewasa disekitar. Tidak ada dari wajah mereka yang tidak sendu. Banyak yang bermata sembab, tidak sedikit orang yang menangis, dan  Kini kusadari bahwa aku sedang berada di rumah Nenekku, yang mungkin Nenekku sedang menggelar acara pengajian. Karena lihatlah.. disana ada teman-temanku, sahabat-sahabatku, dan juga guru-guruku yang sedang berkerumun diruang tamu. Tahlilan.

   Aku kemudian turut muram. Sedari tadi, fikiranku dipenuhi dengan beribu pertanyaan tentang, Kenapa semua orang bersedih?

   "Apakah kamu sudah siap untuk pulang?"

   Suara nyaring nan merdu itu hampir saja membuatku terlonjak.

   Kulihat seorang pria berwajah rupawan yang kurasa baru pertama kali ini aku melihatnya. Sangat rupawan. Melebihi aktor aktor hollywood terkemuka. Dan sepertinya, sekarang ini beliau patut menyandang gelar sebagai 'orang terganteng seantero bumi'. Percayalah.

   "Pulang ke rumahku?" tanyaku.

   Pria tersebut tersenyum. "Ke rumah kita semua, nak"

   Aku menyelidik. "Rumah kita?"

   Pria tersebut kembali tersenyum. Senyum yang sangat menentramkan.

   "Hey, kurasa kita sepantaran, ayolah, jangan memanggilku dengan sebutan 'nak' seperti itu, aku jadi merasa sangat bocah jika berada disebelahmu" senggolku. Aku merasakan pundaknya. Pundaknya sangat kokoh.
  
  Pria itu mengacak-acak rambutku, seakan-akan aku memanglah seorang bocah. "Aku beribu-ribu tahun lebih tua darimu, Mal!"

  "Hey? Apakah kita saling kenal satu sama lain sebelumnya?" tanyaku menyadari bahwa ia menyebut namaku. Dan itu terdengar sangat bersahabat.

   Pria tersebut tertawa lirih. "Ya, dulu kita sering bermain bersama, kau ingat?"

   Aku berusaha untuk mengingatnya kembali. Sangat keras.
   Namun hasilnya nihil.

  "Sudahlah, itu hal yang wajar, kurasa kau akan mengenalku kembali setelah semua ini" ia menepuk pundakku.

   Semua ini?

   Aku kembali memandangi apa yang sedang terjadi disekitarku. Dan..
.. Ah, Ibu! Apakah semuanya baik baik saja?

   Aku pergi kekamar Ibu dan semuanya tidak bertambah baik.
   Lihatlah.. Ibu sedang menjerit-jerit seperti orang gila.

   Aku memberanikan diri untuk mendekat ke arah Ibu yang masih saja menangis. Ada Ayahku disana, tetangga dan juga saudara-saudara yang kukenali yang juga ikut berkerumun disekitar Ibu, berusaha menenangkan hatinya. "Istighfar sing katah Bu .."

   "Mama"

   Aku berusaha memanggil Ibu. Namun, Ibu sepertinya tidak mendengar. Dan semua orangpun seperti tidak menghiraukanku.

   Aku mencoba memanggil Ibuku satu kali lagi, kali ini suaraku lebih lantang dari yang sebelumnya.

   "Mama!"

   tetapi Ibuku malah menangis lebih keras. Aku menjadi merasa bersalah akannya.

   Tidak lama, pintu kamarpun berbunyi. Seseorang mengetoknya dari luar. Kini, tangis Ibu berhenti. Salah satu tetangga membuka pintu kamar. Kemudian terlihat gadis kecil berambut pendek sebahu dari balik pintu. Ragu ragu untuk memasuki kamar.

  Itu Adikku.

  Wajah Adikku merah padam. Tawa ceria yang biasanya selalu ada dalam dirinya serasa sirna, digantikan dengan lambang U terbalik yang kini sedang membentuk bibir mungilnya.

  Aku tidak ingin melihat adikku yang ceria itu terlihat murung seperti sekarang. Aku ingin menghiburnya, aku ingin menghampirinya.. aku..
.. ingin...
...memeluk Adikku...
... sekali lagi.

  Aku berlutut didepan adikku, berusaha mensejajarkan tinggiku dengannya. Tanganku mengembang, memberikan isyarat agar Adikku berlari kearahku, kemudian membiarkannya menangis dipundakku, seperti apa yang biasa kami lakukan jika ada teman Adikku yang berbuat ulah kepadanya.

  Namun Adikku masih terdiam. Tidak menangis, tidak tertawa. Tidak bergerak. Yang kudengar hanyalah suara nafasnya yang menderu.

  "Nduk... Ayo masuk, jangan didepan pintu terus begitu.."

  Suara salah satu tetangga tidak membuat tanganku menurun. Tanganku masih tetap mengembang, menunggu Adikku mendekatiku lalu kemudian memelukku.

   Dan akhirnya, Adikku perlahan melangkah maju..

.. terus maju ..

.. dan berhenti tepat dihadapanku

  Kemudian, aku berusaha memeluk tubuh mungilnya..
..
..
..tapi..
..tidak bisa

  Aku berusaha memeluknya lagi.

..kuulangi lagi
..sekali lagi
..aku terus berusaha untuk memeluk adikku

   Adikku mulai menangis. Tanpa suara. Tidak apa.. tidak apa..
..sekali lagi
..lagi
..lagi
..dan lagi

   Tubuh Adikku bergetar. Tangisnya sangat menyakitkan.
   Aku menjadi panik. Sangat panik. Aku terus mengulang gerakanku berkali-kali. Namun...
.. aku tidak bisa ..

.. tanganku..
..menembus

  Tanganku menembus tubuh mungil Adikku setiap kali aku hendak memeluknya.

Tidak apa dik, tidak apa ..

Tidak apa.. semuanya akan baik baik saja..
  
  Kemudian aku mendengar suara langkah seseorang dari belakangku. Ayahku mempunyai suara langkah yang sangat khas. Tegas. Teratur.

  Ayahku melangkah menembus tubuhku. Aku akui, ini sangat menyakitkan.

  Aku memang tidak merasakan apapun ketika Ayahku menembus tubuhku. Namun entah kenapa ini sangat menyakitkan.

  Ayahku kemudian memeluk Adikku, dan menggendong tubuh mungilnya. Kemudian Adikku menangis di pundak Ayahku.

  Aku melihat Ibuku mengusap wajahnya. Menghilangkan bekas air matanya. Kemudian berusaha tersenyum sambil berkata "Jangan menangis dik, Mamas tidak suka melihatmu menangis seperti itu..."

  Ayahku membelai rambut Adikku. "Mamas pasti akan sedih jika liat kita semua sedih dik, jangan menangis gitu dong biar Mamas ga sedih ..." Ayahku mengusap air mata Adikku. Berusaha menenangkan Adikku.

...yang tanpa ia sadari, juga menenangkanku.

   Adikku mengangguk, lalu bertanya
"Apakah kita bisa ketemu Mamas lagi?"

   Ayahku tersenyum, "Kita hanya berpisah sebentar saja Dik... InshaAllah, kita semua akan menyusul Mamas, bertemu dengannya lagi di tempat yang paling indah.."

  Adikku akhirnya tersenyum, disusul Ibu. Dan juga para tetangga yang sepertinya sangat lega melihat Ibu sudah tidak lagi menjerit jerit seperti beberapa menit sebelumnya.

  Aku kemudian tersenyum.

  Kulihat pria berwajah tampan seantero bumi tadi sudah berada di ambang pintu. Ikut tersenyum.

   Pria terganteng seantero bumi itu mengulurkan tangannya.

   Tanganku menggapainya.

   Tidak tembus. Aku bisa merasakan tangannya. Tangannya erat menggenggamku.

  "Waktunya habis, sudah siap?"

   Aku mengangguk.

   Akhirnya..

.. Aku pulang!

--

Untuk Alm. Kemal Arkaun Al-fuadi rahimullah.
Selma buat cerita fiksi ini dalam rangka Selma sedang kangen Mamas, hehe.
InshaAllah, esok kita semua akan dipertemukan lagi, di jannahNya.
Aamiin.

XOXO
Adikmu yang dulunya terkenal sangat menyebalkan.

Foto Selma Garuda.
Mamas dan Selma.

Labels: ,


0 comment(s) on current post.